Mengenal B2B dan B2C Dalam Bisnis

Mengenal B2B dan B2C Dalam Bisnis

Mengenal B2B dan B2C

Mengenal b2b dan b2c dalam dunia bisnis itu sangat penting, karena pengertian sebuah bisnis erat kaitannya aktivitas produksi, pembelian, penjualan dan pertukaran barang serta jasa yang melibatkan orang atau perusahaan. Dalam lingkup yang lebih sempit, pengertian tentang bisnis kerap dikaitkan dengan usaha, perusahaan, atau organisasi yang menghasilkan produk berupa barang maupun jasa.

Salah satu fokus utama yang menjadi dasar sebuah usaha didirikan adalah target pasar serta sistem bisnis yang akan digunakan. Dalam prakteknya, terdapat dua jenis sistem bisnis yang perlu Anda ketahui. Yakni sistem business to business (B2B) dan business to customer (B2C). Sebagai pelaku usaha, Anda perlu memahami berbagai istilah dalam dunia bisnis dan disini kita akan lebih mengenal b2b dan b2c itu.

Baca Juga : Strategi Marketing Di Masa Pandemi

Apa Itu B2B dan B2C ?

B2B, adalah penjualan produk atau jasa yang diberikan oleh satu bisnis dan diperuntukan untuk bisnis lainnya. Contohnya, jika Anda menjalankan bisnis yang menjual bahan pakaian dan Anda melakukan penjualan ke store-store atau bisnis fashion yang ada. Positioning dalam bisnis Anda yang diperuntukkan untuk perusahaan lain disebut B2B, bukan langsung kepada perorangan atau grup.

b2b
Source : https://cdn.datafloq.com/cache/blog_pictures/1200×630/b2b-ecosystems-big-data-transform-sales-marketing.jpg

B2C, adalah bisnis yang melakukan pelayanan atau penjualan barang atau jasa kepada konsumen perorangan atau grup secara langsung. Dengan kata lain, bisnis jenis ini berhubungan langsung dengan konsumen bukan perusahaan atau bisnis lainnya.

b2c
Source : https://image.freepik.com/free-vector/b2c-business-consumer-iconic-background_7505-607.jpg

Contohnya, jika Anda memiliki bisnis makanan. Dan menjualnya kepada konsumen perorangan, berarti bisnis Anda B2C. Tetapi jika Anda menjual makanan dalam jumlah besar kepada bisnis lainnya, berarti bisnis Anda adalah B2B.

Dari penjelasan singkat ini, nampak jelas bahwa perbedaan B2B dan B2C terletak pada target pembelinya. Barang yang ditawarkan bisa saja sama. Tapi, siapa yang membeli jadi hal yang penting.

Perbedaan B2B dan B2C

Ada beberapa perbedaan yang kontras, terutama pada penanganan social media. Berikut ini beberapa perbedaan antara B2B dan B2C yang bisa dijadikan referensi bagi Anda, yaitu :

1. Target audiens atau pasar

Dilihat dari namanya, B2B dan B2C jelas memiliki target pasar yang berbeda. B2B menyasar pelaku-pelaku bisnis, sedangkan B2C menargetkan pembelian oleh konsumen perorangan. Dari sini saja terlihat bahwa perbedaan B2B dan B2C begitu besar.

Secara jumlah, prospek pasar B2B cenderung kecil. Bisa dibilang begitu karena jumlah pengusaha atau produsen pastinya lebih kecil dibandingkan konsumennya. Itu mengapa B2B memiliki potensi penjualan yang kecil dan spesifik.

Lain halnya dengan B2C yang menargetkan konsumen. Potensi pasar B2C sangat luas dan kemungkinannya hampir tak terbatas. Bayangkan apa saja barang yang bisa dijual ke 264 juta penduduk Indonesia? Banyak sekali bukan? Inilah yang disebut sebagai kemungkinan yang tak terbatas.

Meski perbedaannya begitu kentara, kita tak bisa mengatakan satu model bisnis lebih baik di antara lainnya. Perbedaan keduanya hanyalah seperti alamat atau kebutuhan yang berbeda.

2. Jumlah pembelian dan harga

Dalam marketing, siapa yang membeli ikut mempengaruhi jumlah barang yang dibeli berikut juga harganya. Untuk B2B misalnya, tidak perlu menjual barang dalam jumlah besar untuk mendapatkan omset tinggi. Karena pada dasarnya, harga per unit pada model B2B sudah sangat tinggi.

Tidak menutup kemungkinan kalau pembelian dalam skema B2B juga terjadi dalam jumlah yang besar. Dari sebuah sumber dikatakan bahwa nilai rata-rata kontrak B2B milik Lippo Group, Mbiz, berhasil mencetak rata-rata nilai kontrak sebesar Rp 312 juta.

Berbeda halnya dengan marketing B2C. Model satu ini mengharuskan Anda menjual produk dalam jumlah besar untuk memaksimalkan omzet. Tak lain, ini karena harga barang per unitnya sudah sangat murah. Ditambah, tak banyak orang yang membeli barang-barang retail dalam jumlah besar.

3. Motivasi

Anda harus bisa memahami motivasi pembeli agar bisa menjalankan strategi marketing dengan baik. Sama halnya dengan kedua model bisnis ini.

Motivasi yang biasa dimiliki oleh pembeli pada model B2B adalah memaksimalkan profit, efisiensi produk, dan investasi. Klien mereka bukanlah orang yang memenuhi kebutuhannya atas dasar emosional. Klien mereka adalah yang selalu melakukan pertimbagan logis. Jadi, produk tersebut harus benar-benar menguntungkan bagi mereka.

Sementara itu, motivasi yang terjadi pada pembeli di model bisnis B2C ada banyak sekali. Kemungkinan mereka membeli produk hanya untuk mencoba model baru, ada promo, benar-benar suka dengan produknya, untuk hadiah, dan motivasi lainnya. Jadi, motivasi para pembeli pada bisnis B2C dalam melakukan pembelian selalu dilakukan atas dasar emosi.

Walaupun mereka melakukan pertimbangan logis, namun pembeli B2C akan lebih fokus menggunakannya untuk kebutuhannya saja. Mereka tidak berpikir untuk menjual kembali produk tersebut.

4. Pengambilan Keputusan

Seperti yang sudah dibahas pada poin sebelumnya, klien pada bisnis B2B merupakan klien yang melakukan pertimbangan logis. Mereka harus melakukan banyak pertimbangan dan keuntungan jangka panjang sebelum membeli suatu produk. Oleh karena itu, sering kali ada banyak pihak yang dimintai pendapat dan pertimbangan.

Dalam membeli satu unit produk saja sebuah perusahaan sering meminta pendapat para direktur, manajer, bagian finansial, legal, hingga marketing. Sehingga, jangan heran jika mereka membutuhkan waktu yang lama dalam pengambilan keputusan dan memulai terjadinya transaksi.

Disisi lain, pembeli produk B2C hanya akan mengambil keputusan secara individu saja, karena produk yang mereka beli hanya akan digunakan untuk pribadi mereka. Jika ada pihak lain yang dimintai pertimbangan, proses tersebut tidak akan serumit seperti halnya B2B. Oleh karena itu, pembeli pada produk retail akan lebih cepat melakukan transaksi.

5. Hubungan penjual dengan pembeli

Praktik bisnis B2B dan B2C memiliki hubungan antara penjual dan pembeli yang berbeda. Sifat kontras ini sedikit banyak dipengaruhi oleh motivasi dan proses pembuatan keputusan.

Dalam kasus B2B, misalnya. Proses yang panjang dan rumit membuat klien B2B bisnis cenderung menjalin hubungan jangka panjang dengan supplier-nya. Sekali klien merasa puas dan cocok dengan kualitas produk serta pelayanan, klien B2B kemungkinan akan terus memakai supplier tersebut. Bisa dikatakan reputasi dan pengalaman menjadi faktor penting bagi kesuksesan bisnis B2B.

Hal di atas sangat berbeda dengan hubungan B2C. Motivasi personal dan pengambilan keputusan yang cepat membuat hubungan pembeli dan penjual berlangsung jangka pendek. Ditambah, ada banyak pilihan produk dan promo di pasaran. Ini menyebabkan pelanggan bisa dengan mudah berpindah ke satu produk ke produk lainnya. Tak aneh jika salah satu tantangan bisnis B2C adalah meningkatkan loyalitas pelanggan.

6. Persaingan

Dalam dunia bisnis, persaingan adalah hal yang biasa. Namun, kita perlu memahami kenapa persaingan itu bisa terjadi. Dengan begitu, kita akan lebih mampu menyusun strategi pemasaran yang efektif untuk memenangkan perdagangan.

Jika dilihat dari jumlah pelaku bisnis B2B, model bisnis ini mempunyai tingkat persaingan yang cenderung lebih sedikit. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia belum banyak yang meminati model bisnis B2B. Sehingga, pelaku bisnis B2B mayoritas adalah itu-itu saja.

Tapi, persaingan sebenarnya bagi bisnis B2B adalah pada koneksi dan reputasi mereka. Agar bisa memenangkan klien, para pebisnis B2B harus mampu meningkatkan reputasinya, seperti dalam hal pengetahuan, keahlian, portofolio, serta pengalaman dalam melayani klien.

Reputasi tidak akan bisa meningkat jika pebisnis B2B tidak mempunyai koneksi. Bagaimana caranya pebisnis B2B bisa mendapatkan pengalaman yang baik jika belum pernah melayani klien? Namun tanpa adanya reputasi, pebisnis B2B pun tidak akan memiliki koneksi. Hal ini memang cukup membingungkan.

Lain halnya dengan model bisnis B2C. Dilihat dari banyaknya pelaku bisnis B2C saja sudah bisa kita simpulkan bahwa persaingan dagang mereka sangatlah tinggi. Tingkat persaingan ini terjadi pada berbagai skala dan sektor. Mulai dari perusahaan kecil, hingga industri rumahan.

Maka jangan heran jika ada banyak sekali bisnis model B2C yang melakukan promo produknya secara gila-gilaan. Mulai dari merilis produk yang baru, brand ambassador terkenal, hingga diskon yang besar. Upaya ini dilakukan hanya demi memengaruhi minat pelanggan mereka.

7. Strategi marketing

Sekian perbedaan yang telah disebut sebelumnya membentuk strategi marketing yang spesifik.

B2B kerap menggunakan strategi marketing untuk meningkatkan reputasinya. Biasanya, B2B menggunakan media untuk menampilkan berbagai konten dan portofolionya. Cara ini akan meyakinkan calon klien bahwa sebuah bisnis memang memiliki keahlian di bidang tersebut. Bisnis semacam ini juga memiliki public relation khusus untuk melakukan lobi ke klien-klien yang diincar.

Strategi tersebut sedikit berbeda dengan B2C. Meski sama-sama membutuhkan reputasi, bisnis B2C mewujudkannya dengan cara berbeda. Bisnis yang langsung menyasar konsumen biasanya akan menggunakan strategi marketing yang bersifat emosional. Artinya, konsumen bisa saja dibuat merasa senang, sedih, atau bangga hingga akhirnya membeli produk yang diiklankan. Selain itu, banyak bisnis B2C yang gencar melakukan promosi dan diskon.

8. Dalam Hal Manajemen

Perbedaan B2B dan B2C selanjutnya adalah pada sektor usaha dan management. Perusahaan B2B lebih erat kaitannya dengan sektor industri, sedangkan B2C lebih berfokus pada pengguna atau pelanggan. Pendekatan pemasaran digital untuk kedua jenis bisnis tersebut akan berbeda. 

Salah satunya berkaitan dengan karakter media pemasaran yang digunakan. Jenis perusahaan B2C mungkin lebih cocok menggunakan media sosial seperti Instagram, Facebook,  Twitter, dan Youtube untuk memperoleh audience reach yang maksimal. Sedangkan perusahaan B2B dapat melakukan proses inbound pada target yang sudah ditetapkan untuk kemudian mendapatkan memanfaatkannya dalam prospek-prospek berkualitas (qualified-leads). 

Berikut ini merupakan beberapa perbedaan B2B dan B2C dalam hal manajemen perusahaan:

  1. B2C lebih customer-centric, sedangkan B2B lebih berfokus pada industri
  2. Perbedaan karakteristik media sosial yang berbeda
  3. Keberadaan solusi dan referensi pengalaman lebih penting pada Business to Business dibanding pada B2C
  4. Social public relation tidak terlalu diperlukan pada jenis Business to Business. Namun pada B2C Social PR merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari program marketing secara keseluruhan.

Kesimpulan

Setelah mengenal b2b dan b2c , walaupun B2B dan B2C sama-sama menjual suatu produk, namun keduanya memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Dari artikel ini kita bisa mempelajari bahwa perbedaan antar ketiganya bisa memengaruhi bagaimana suatu bisnis bisa berjalan dan strategi marketing yang mereka gunakan.

Jadi, yang manakah bisnis model Anda? Apakah B2B atau B2C ? namun apapun model bisnis Anda, tetap saja Anda harus memiliki sistem keuangan bisnis yang baik agar Anda bisa melacak dan mengatur sistem keuangan yang tepat untuk bisnis Anda

Sumber :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *